Sore-sore

Namanya Resti, 11 tahun. Tidak beralas-kaki. Menghampiri satu meja ke meja yang lain, dengan kecrekan di tangan kiri. Badannya basah kuyup karena hujan. Nampak takut-takut pada awalnya, namun tersipu-sipu malu ketika ia jawab pertanyaanku dengan, “cumi bakar” dan “jus stroberi” :)
“Aku ngga punya kasur di rumah, cuma tidur pake baju yang dijadiin bantal. Tapiiii alhamdulillah bisa tidur :D alhamdulillah..”
Sore hari yang dingin, sedingin lengan Resti.
Sehangat gelap nyawang dan lagu-lagu 90an.
Sekenyang Putri yang kekenyangan dikunjungi tantenya dari Balikpapan.

“tapi dibungkus ya teh”
“:D”
terakhir, ia berlari.. dan berlari.. dan berlari..
mungkin buru-buru ingin dibaginya dengan seseorang :)

Ps.
Putri, kita harus melakukan ini lagi.

Malam di lampu merah simpang dago.
“..teh! hati-hati teh :)”
:D

ingin sekali kucubit pipinya
#gemes

***

persimpangan dago selalu sukses melukaiku dengan hal-hal kecil. harusnya aku ngobrol lebih banyaaak!
*dasar ngga pedean*

Subuh

Kepada Dani, imam shalat ashar rumah belajar ciroyom tanggal 16 Agustus 2010.

Pertama kali kita bertemu, waktu itu, padaku kamu langsung bercerita tentang kancil yang suka mencuri. Si kancil mencuri berkali-kali di kebunnya pak tani, dan berkali-kali itu pula si kancil dihukum sang pemilik kebun. Kau bercerita dengan terbata-bata, tapi setelah bahasa sundamu keluar, kalimatmu mengalir lancar seperti air. Aku bilang aku tidak mengerti bahasa sunda, kau pun kebingungan… Hahahahaha :))) “Jadi, mencuri itu ngga baik, kak. Kita ngga boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita” ujar dirimu, kalem.
Kau pasti tak ingat namaku, tak apa :) Entah sudah berapa lama kau menjadi salah satu pendekar ciroyom, pasti banyak sekali relawan yang hilir mudik memperkenalkan namanya.

Tiga kali kita bertemu, dan tiga kali pula berkenalan, sayangnya kesempatan keempat tidak akan muncul lagi di dunia ini, dunia yang baru saja kau tinggal pergi Senin lalu. Kau pergi dalam tidur nyenyakmu. :’) itu artinya Allah menyayangimu…

Mungkin Mereka Belum Pernah Ke Karfur

Dua anak laki-laki duduk di pintu angkot. Satu anak asik memainkan gitarnya yang kecil, bernyanyi. Satu lagi tak begitu terlihat dari tempatku duduk, dari suaranya.. mungkin menabuh gendang. Sebuah lagu selesai dimainkan. Dan lengan kecil sang penyanyi diulurkan ke dalam angkot. Seseorang menyodorkan sebungkus besar roti. Sang penyanyi cilik tertegun, menatapnya sebentar kemudian dengan susah payah dirangkulnya roti itu. Sekarang sang pemberi roti yang tertegun. Ia tak pernah menyangka roti itu berukuran hampir setengah badan sang penyanyi.

Sang penyanyi cilik melompat keluar dari angkot mengikuti sang penabuh gendang. Wajahnya berseri-seri, gitar di tangan kanannya, roti di tangan kirinya, diangkatnya ke atas seperti pemain gulat mengangkat sabuk kemenangan. Tubuhnya yang mungil pun berlonjak-lonjak girang, tak lama kemudian ia berceloteh, “yey! dapet ini! yey! yey! yey! dapet ini! yey! yey! yey!…” Keduanya masih berlompatan, angkot berlalu, pemandangan itu membekas, mata pun sembab.

pilu.

Inspirasi




Warung nasi goreng di depan kosan saya. Enak, tapi ada yang bilang keasinan, yang penting menurut saya sih enak. Baru buka menjelang magrib, entah sampai semalam apa. Semingguan ini saya lagi rutin-rutinnya makan malam disini, mengingat mulai minggu depan mungkin saya akan jarang kesini karena pindah kosan.. Pak, Bu, semoga rezekinya selalu lancar ya :)